Thursday, July 9, 2009

~Izinkan Aku Bercuti Dari Berdakwah~





Assalamuaalikum w.b.t

Bismillahirrahmanirrahim...

Suatu petikan artikel yang bagus dari iluvislam.. bley la sama-sama kita baca...baca sampai habis deh.. =)

Jalanan ibukota masih saja ramai hingga larut malam ini, dengan kendaraan yang terus berlalu lalang, juga dengan kehidupan manusia-manusia malam yang seakan tidak akan pernah mati.

Namun kini hatiku tak seramai jalanan di kota ini. Sunyi. Itulah yang sedang kurasakan. Bergelut dengan aktifitas dakwah yang menyita banyak perhatian, baik tenaga, harta, waktu dan sebagainya, seakan menempa diriku untuk terus belajar menjadi mujahid tangguh.

Tapi kini, hatiku sedang dirundung kegalauan. Galau akan saudara-saudaraku dalam barisan dakwah yang katanya amanah, komitmen, bersungguh-sungguh namun seakan semua itu hanyalah teori-teori dalam pertemuan mingguan.

Hanya dibahas, ditanya jawabkan untuk kemudian disimpan dalam catatan kecil atau buku agenda yang sudah lusuh hingga pekan depan mempertemukan mereka lagi, tanpa ada amal perbaikan yang lebih baik. Ya… Mungkin itu yang ada dibenakku saat ini tentang su’udzhan-ku terhadap mereka, setelah seribu satu alasan untuk ber-husnudzhan.


Kini kutermenung kembali akan hakikat dakwah ini. Sebenarnya apa yang kita cari dari dakwah? Dimanakah yang dinamakan konsep amal jama'i yang sering diceritakan indah? Apakah itu hanya pemanis cerita tentang dakwah belaka? Apakah ini yang disebut ukhuwah?

Sering terlontarkannya kata-kata "Afwan akh, ana gak bisa bantu banyak…" atau sms yang berbunyi "Afwan akh, ana gak bisa datang untuk syuro malam ini…" atau kata-kata berawalan "Afwan akh…" lainnya dengan seribu satu alasan yang membuat seorang akh tidak bisa hadir untuk sekedar merencanakan strategi-strategi dakwah kedepannya.

Kalau memang seperti itu hakikat dakwah maka cukup sudah, "Izinkan aku untuk cuti dari dakwah ini, mungkin untuk seminggu, sebulan, setahun atau bahkan selamanya. Lebih baik aku konsenstrasi dengan studiku yang kini sedang berantakan, atau dengan impian-impianku yang belum terpenuhi, atau dengan lebih memperhatikan ayah dan ibuku yang sudah semakin tua, toh tanpa aku pun dakwah tetap berjalan, bukan???"



Sahabat-sahabatku…

Memang dalam dunia dakwah yang sedang kita geluti seperti sekarang ini, tidak jarang kita mengalami konflik atau permasalahan-permasalahan. Dari sekian permasalahan tersebut terkadang ada konflik-konflik yang timbul di kalangan internal aktivis dakwah sendiri.

Pernah suatu ketika dalam aktivitas sebuah barisan dakwah, ada seorang ikhwan yang mengutarakan sakit hatinya terhadap saudaranya yang tidak amanah dengan tugas dan tanggungjawab dakwahnya. Di lain waktu di sebuah lembaga dakwah kampus, seorang akhwat "minta cuti" lantaran sakit hatinya terhadap akhwat lain yang sering kali dengan seenaknya berlagak layaknya seorang bos dalam berdakwah.





Pernah pula suatu waktu seorang kawan bercerita tentang seorang ikhwan yang terdzalimi oleh saudara-saudaranya sesama aktifis dakwah. Sebuah kisah nyata yang tak pantas untuk terulang namun penuh hikmah untuk diceritakan agar menjadi pelajaran bagi kita.

Ceritanya, di akhir masa kuliahnya sebut saja si X (ikhwan yang terdzalimi) hanya mampu menyelesaikan studinya dalam waktu yang terlalu lama, enam tahun. Sedangkan di lain sisi, teman-temannya sesama (yang katanya) aktifis dakwah lulus dalam waktu empat tahun.


Singkat cerita, ketika si X ditanya mengapa ia hanya mampu lulus dalam waktu enam tahun sedangkan teman-temannya lulus dalam waktu empat tahun? Apa yang ia jawab? Ia menjawab "Aku lulus dalam waktu enam tahun karena aku harus bolos kuliah untuk mengerjakan tugas-tugas dakwah yang seharusnya dikerjakan oleh saudara-saudaraku yang lulus dalam waktu empat tahun."


Subhanallah… di satu sisi kita merasa bangga dengan si X, dengan militansinya yang tinggi beliau rela untuk bolos dan mengulang mata kuliah demi terlaksananya roda dakwah agar terus berputar dengan mengakumulasikan tugas-tugas dakwah yang seharusnya dikerjakan teman-temannya. Namun di sisi lain kita pun merasa sedih, sedih dengan kader-kader dakwah (saudara-saudaranya si X) yang dengan berbagai macam alasan duniawi rela meninggalkan tugas-tugas dakwah yang seharusnya mereka kerjakan.


Sahabat….


Semoga kisah tersebut tidak terulang kembali di masa kita dan masa setelah kita, cukuplah menjadi sebuah pelajaran berharga….


Semoga kisah tersebut membuat kita sadar, bahwa setiap aktifitas yang di dalamnya terdapat interaksi antar manusia, termasuk dakwah, kita tiada akan bisa mengelakkan diri dari komunikasi hati...


Ya, setiap aktifis dakwah adalah manusia-manusia yang memiliki hati yang tentu saja berbeda-beda. Ada aktifis yang hatinya kuat dengan berbagai macam tingkah laku aktifis lain yang dihadapkan kepadanya. Tapi jangan pula kita lupa bahwa tidak sedikit aktifis-aktifis yang tiada memiliki ketahanan tinggi dalam menghadapi tingkah pola aktifis dakwah lain yang kadang memang sarat dengan kekecewaan-kekecewaan yang sering kali berbuah pada timbulnya sakit hati. Dan kesemuanya itu adalah sebuah kewajaran sekaligus realita yang harus kita pahami dan kita terima.



Namun apakah engkau tahu wahai sahabat-sahabatku?


Tahukah engkau bahwa seringkali kita melupakan hal itu? Seringkali kita memukul rata perlakuan kita kepada sahabat-sahabat kita sesama aktifis dakwah, dengan diri kita sebagai parameternya. Begitu mudahnya kita melontarkan kata-kata "afwan", "maaf" atau kata-kata manis lainnya atas kelalaian-kelalaian yang kita lakukan, tanpa dibarengi dengan kesadaran bahwa sangat mungkin kelalaian yang kita lakukan itu ternyata menyakiti hati saudara kita.


Dan bahkan sebagai pembenaran kita tambahkan alasan bahwa kita hanyalah manusia biasa yang juga dapat melakukan kekeliruan. Banyak orang bilang bahwa kata-kata "afwan", "maaf" dan sebagainya akan sangat tak ada artinya dan akan sia-sia jika kita terus-menerus mengulangi kesalahan yang sama.





Wahai sahabat-sahabatku…

Memang benar bahwasanya aktifis dakwah hanyalah manusia biasa, bukan malaikat, sehingga tidak luput dari kelalaian, kesalahan dan lupa. Tapi di saat yang sama sadarkah kita bahwa kita sedang menghadapi sosok yang juga manusia biasa? bukan superman, bukan pula malaikat yang bisa menerima perlakuan seenaknya. Sepertinya adalah sikap yang naif ketika kesadaran bahwa aktifis dakwah hanyalah manusia biasa, hanya ditempelkan pada diri kita sendiri.


Seharusnya kesadaran bahwa aktifis dakwah adalah manusia biasa itu kita tujukan juga pada saudara kita sesama aktivis dakwah, bukan cuma kepada kita sendiri. Dengan begitu kita tidak bisa dengan seenaknya berbuat sesuatu yang dapat mengecewakan, membuat sakit hati, yang bisa jadi merupakan sebuah kezhaliman kepada saudara-saudara kita.


Sahabat…


Adalah bijaksana bila kita selalu menempatkan diri kita pada diri orang lain dalam melakukan sesuatu, bukan sebaliknya. Sehingga semisal kita terlambat atau tidak bisa datang dalam sebuah aktivitas dakwah atau melakukan kelalaian yang lain, bukan hanya kata "afwan" yang terlontar dan pembenaran bahwa kita manusia biasa yang bisa terlambat atau lalai yang kita tujukan untuk saudara kita.


Tapi sebaliknya kita harus dapat merasakan bagaimana seandainya kita yang menunggu keterlambatan itu? Atau bagaimana rasanya berjuang sendirian tanpa ada bantuan dari saudara-saudara kita? Sehingga dikemudian hari kita tidak lagi menyakiti hati bahkan menzhalimi saudara-saudara kita.


Sehingga kata-kata “Akhi… Ukhti… Izinkan aku cuti dari dakwah ini” tidak terlontar dari mulut saudara-saudara kita sesama aktifis dakwah.

Tuesday, July 7, 2009

~Apakah Nilaian Hidup Sendirian~



Bismillahirahmanirrahim..
Assalamualaikum w.b.t...


Mungkin kita berfikir, apa perlunya hidup bagi orang lain?. Tapi kata-kata Sayyid Qutb “orang yang hidup bagi dirinya sendiri akan hidup sebagai orang kerdil dan mati sebagai orang kerdil. Tetapi orang yang hidup bagi orang lain, ia akan hidup sebagai orang besar dan mati sebagi orang besar”.



Lihatlah junjungan besar, Muhammad s.a.w menjadi orang yang dikagumi dunia bahkan oleh musuh-musuhnya. Baginda rela menempah risiko diboikot selama tiga tahun sehingga diriwayatkan sampai memakan rumput kering, hanya agar orang-orang tidak lagi menyembah patung-patung yang mereka buat sendiri dari batu atau tepung yang apabila lapar mereka sendiri akan memakan patung-patung itu. Hanya agar orang-orang tidak lagi saling membunuh dan menghina kedudukan wanita, sampai mengubur bayi-bayi perempuan mereka hidup-hidup hanya karena alasan tidak logik; Malu!

Generasi Al-Qur’an yang Unik

Lihatlah juga para sahabat Muhammad yang diiktiraf sebagai generasi terbaik yang pernah lahir di dunia kita yang sudah tua ini, Sayyid Qutb menyebutnya “Generasi Qur’ani yang unik”, “Suatu generasi pilihan sepanjang sejarah Islam dan sejarah manusia,yang mana generasi sehebat ini tidak lagi dihasilkan dalam sejarah Islam”. Tengoklah kisah kepahlawanan mereka dalam perang Uhud, saat tiga orang di antara mereka menderita karena luka-luka jihad dan kehausan air dingin yang menyegarkan. Seorang di antara mereka meminta seteguk air. Saat didatangi untuk diberi air, ia melihat sahabat ke-2 juga kehausan, iapun meminta agar air itu diberikan kepada sahabat ke-2 terlebih dulu. Sesampainya air pada sahabat ke-2, ia melihat sahabat ketiga jauh lebih kehausan. Dimintanya air itu agar lebih dulu diberikan kepada sahabat ke-3. Sesampainya air itu pada sahabat ke-3, ia berfikir tentu sahabat pertama sudah tidak tahan lagi menahan haus, iapun meminta agar air itu diberikan pada sahabat pertama. Namun, saat air itu sampai pada sahabat pertama, ia telah syahid, begitupun dengan sahabat ke-2 dan dan sahabat ke-3, telah dijemput bidadari menuju negeri abadi yang tidak dapat ditandingi; Syurga.

Begitulah orang-orang terdahulu hidup bagi orang lain. Mereka hidup sebagai orang-orang besar yang dicatat sejarahnya. Namun hidup bagi orang lain tidaklah mudah, di sana ada pengorbanan besar yang harus dibayar mahal. Tidak cukup sekadar waktu, tenaga, harta atau jiwa, tetapi kadang-kadang sampai mengorbankan perasaan manusiawi mereka sendiri.



Itulah mengapa Hasan Al-Banna tetap memutuskan pergi memenuhi panggilan dakwah walau seorang anaknya sakit keras. Saat itu ia hanya berkata, ” Saya tetap tidak akan pernah bisa menyelamatkan anak ini, walaupun saya tetap berada disisinya” atau itulah jawaban mengapa, Ibnu Taimiyah dan Sayyid Qutb tidak pernah sempat merasakan kelembutan hati dan layanan seorang isteri. Setahu kita, sebahagian besar hidup mereka memang menikmati penjara penguasa. Dan mungkin, itulah alasan mengapa Hanzalah rela meninggalkan kenikmatan halal di malam pertamanya demi memenuhi panggilan jihad, walaupun ia belum lagi sempat mandi wajib. Beliau syahid dalam perang itu dan mendapat kehormatan dari Allah; Dimandikan malaikat-malaikat yang tidak punya dosa.

Lantas, pilihan di tangan anda. Meneruskan kehidupan dengan hanya sibuk berurusan dengan masalah dan keperluan diri; makan, pakaian, keluarga, belajar semata-mata atau mulai melangkah perlahan-lahan meraih redha Ilahi dengan berkongsi nilai iman dan kehidupan sebagai sahabat di lingkunganmu.

Ingatlah hadis Nabi s.a.w.

”Sebaik-baik kamu ialah orang yang paling bermanfaat pada orang lain”


wassalam..

Mohamad Solehin Bin Bakri
Naib Yang di-Pertua,
Persatuan sains Perubatan,
Universiti Sains Malaysia.
msb_rg8@yahoo.com

Thursday, July 2, 2009

~JUALAN BUKU PERUBATAN KHAS!!!~


PENGUMUMAN PENTING!

Akan ada jualan buku dpd Kamal bookstore oleh Persatuan Sains Perubatan (PSP) pada :

04 - 06 JULY 2009 (Sabtu - Isnin)
FOYER PPSP (red square)
10am - 4pm

Staf Kamal tak datang, tapi PSP akan buat jualan buku-buku Kamal bookstore. Jangan lupa dapatkan nasihat senior or lecturer dahulu sebelum nak beli buku. InsyaAllah harga yang berpatutan boleh dapat dpd syarikat ni.

Pastikan datang dengan wang yang mencukupi. Harap maklum!


Mohamad Solehin Bin Bakri
Naib Yang Di-Pertua,
Persatuan Sains Perubatan
Universiti Sains Malaysia.

Thursday, June 18, 2009


~Seminar Kecemerlangan SPM,Suatu Pengalaman~




Bismillahirrahmanirrahim..
Assalamualaikum w.b.t

Alhamdulillah,ingin skali ana memanjatkan sebanyak-banyak kesyukuran kepad Allah s.w.t diatas limpah rahmat dan usia yang diberikan kepada diri ini…smoga dengan usia yang diberi ini,dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya…Allahumma amen..




Sahabat sekalian,umur yang panjang bukanlah penentu kepada kualiti kehidupan seseorang manusia yang mana pada masa yang sama adalah hamba Allah.Ketahuilah wahai pembaca sekalian, sesetengah ulama’ menterjemah umur dimana mereka mengatakan bahawa “seseorang yang telah mati itu sebenarnya mereka masih hidup malah,seseorang yang masih hidup itu pada dasarnya mereka sudahpun mati”. Apa yang dimaksudkan disini adalah,walaupun seseorang itu telah mati beribu-ribu tahun dahulu,tetapi jasa dan ilmu yang mereka miliki itu membuatkan mereka ini tetap hidup disanubari hamba-hamba Allah yang soleh,dan apa yang dikatakan orang-orang yang masih hidup itu adalah telah mati adalah kerana umur yang masih dimiliki tidak bermanfaat kea rah menemui allah di akhirat kelah…jadi,semoga kita semua adalah tergolong di kalangan golongan yang memanfaatkan umur dengan perkara yang membawa keberkatan dan melayakkan diri kita menghuni syurga Allah kelak..insyaAllah.



Berkenaan tajuk post ana pada kali ini,ia merupakan suatu post penghargaan ana kepada semua yang terlibat dalam menjayakan SKSPM pada tahun ini yang mana pada ana,ia adalah suatu pengalaman yang sangat berharga dan susah untuk dilupakan.Bagi ana,ini merupakan suatu proses pengajaran bagi diri ana yang sangat bermakna dimana suasana program kali ini boleh dikatakan lebih sejahtera berbanding sebelumnya.Apa yang ana maksudkan adalah keterbukaan dikalangan semua terhadap penerimaan cara pembawaan pada kali ini yang ana boleh simpulkan sebagai suatu yang lebih ‘makruf dan sejahtera’.terima kasih diucapkan..


Tujuan asal penulisan kali ini adalah sebagai suatu perkongsian tentang pengalaman mengendalian SKSPM pada tahun ini.Apa yang nk diceritakan adalah mengenai pernglibatan peserta kali ini yang mana pada ana suatu perkongsian yang halus diantara diri ana sendiri bersama-sama mereka.Untuk pengetahuan,peserta kali ini terdiri dari pelbagai latar belakang sekolah..ada dari pelajar-pelajar maahad,sek.men.sains,sek,men.keb dan byk lagi…pengalaman bersama mereka semua mengajar ana untuk ingin menjadi lebih baik,matang dan berwawasan.Melihat sesetengah daripada adik-adik peserta kali ini, merasakan diri ini semakin tidak berilmu dan begitu terharu dengan mereka yang hebat dari segi rohaniah mereka.Dari situ,timbul juga rasa cemburukan ilmu seperti mereka yang membawa diri ini kearah ingin sekali memiliki seperti mereka…
Untuk pengetahuan,kali ini exco kerohanian terus melakukan perubahan dalam membawa skspm kearah konsep ‘syumuliah’ agar islam itu dilihat lebih luas dari kacamata seorang pelajar yang mana pada masa yang sama adalah remaja.Antara perkara yang dilakukan adalah seperti sesi perbincangan dengan adik-adik atau lebih dikenali sebagai ‘usrah = keluarga’.sesi aerobic bersama exco kerohanian,sese-sesi selingan bersama exco kerohanian,sesi muhasabah dll.Terima kasih diucapkan kepada semua yang telah menjayakan apa yang dilakukan oleh exco kerohanian pada tahun ini.Kepada anak-anak usrah abang (Hadi,Taslim,Wan,Zul,Basyar,Hazem,Husayni,Firdaus & yg lain)…ana gembira dapat bersama antum semua…suatu pengalaman ukhwah yang sangat bermakna.
Jadi,sebagai penutupnya,ana ingin mengucapkan jutaan terima kasih kepada semua yang terlibat dalam menjayakan skspm yang pada ana lebih berkonsep ‘makruf dan sejahtera’ ini.smoga segala usaha yang kita lakukan akan dinilai oleh Allah sebagai suatui yang terbaik dan mendapat berkat.Firman Allah:

“Dialah yang telah mentakdirkan adanya mati dan hidup (kamu) untuk menguji dan menzahirkan keadaan kamu: Siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya; dan Dia Maha Kuasa (membalas amal kamu), lagi Maha Pengampun, (bagi orang-orang yang bertaubat)” (Al-Mulk: 3)

Jadi,perlulah kita menjadi orang yang terbaik dalam amalan kita,jadilah manusia yang penuh rasa kehambaan,bertuhan dan faham takdir-Nya,jadilah manusia yang sentiasa bersyukur dengan setiap kurniaanNya,jadilah insan yang sentiasa melihat segala makhluk yang ada dimuka bumi ini sebagai suatu perkara yang boleh membawa kepada peningkatan rasa ketuhanan dan iman..insyaAllah.
Kepada adik-adik peserta skspm kali ke-15 tahun ini..smoga bi taufiq wan najah dalam SPM yg antum dan antenna akan hadapi tahun nie…ana mendoakan kejayaan semua agar menjadi pejuang-pejuang islam yang cemerlang di semua ipta/ipts dalam dan luar Negara kelak..insyaAllah…

Kepada pejuang agama…Teruskan Usaha kalian,semoga Allah membantu kita semua dalam menegakkan agamaNya…

Wassalam..

Mohamad Solehin Bin Bakri
Naib Yang di-Pertua,
Persatuan Sains Perubatan,
Universiti Sains Malaysia.
msb_rg8@yahoo.com

=)

Monday, June 1, 2009

~Mabruk a'laikum Ya Sohabi (Akhi Al-Aarifin & Kak Aini~



Bismillahirrahmanirrahim...

Assalamualaikum w.b.t
Firman Allah:

“Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami)”. (Surah al-Furqaan: 74)"

Alhamdulillah...Bersyukur kita kehadrat ilahi kerana dengan limpah kurniaNya...yang bernyawa terus bernyawa,yang sakit semakin sihat,yang lemah bertambah kuat,yang bujang bertukar status kepada kahwin dan sebagainya...sangatlah perlu kita mensyukuri setiap titis nikmat yang dikurniakan oleh Allah kepada kita...Terlalulah banyak nikmat yang Allah kurniakan kepada kita..tidak sekali-kali kita dapat menghitungnya..

Firman Allah:

"Dan jika kamu menghitung nikmat Allah (yang dilimpahkannya kepada kamu), tiadalah kamu akan dapat menghitungnya satu persatu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani." (Al-Nahl:18)



Sahabat sekalian,semakin hari semakin meningkat umur dan pelbagailah perancangan yang dilakukan oleh kita untuk meneruskan kehidupan kita sebagai hamba Allah dimuka bumi ini... sesungguhnya perancangan Allah mengatasi segala perancangan makhluk...kalaupun begitu,kita sebagai seorang hambaNya sentiasa perlu merancang yang terbaik berdasarkan disiplin syarak supaya kita dapat mengatur kehidupan kita...

Apabila semakin berumur,mulalah ada dikalangan kita yang memikirkan untuk membina 'Baitul Muslim' bersama pasangan-pasangan yang pada dasarnya telahpun ditetapkan oleh Allah untuk kita..Inilah perkara yang dituntut oleh junjungan kita Nabi Muhammad S.A.W didalam hadithnya yang berbunyi:


"Rasulullah s.a.w. telah bersabda: “Nikah adalah sunnahku (jalan agamaku), maka barangsiapa yang cintakan agamaku hendaklah dia menjalankan sunahku itu”. (Riwayat Abu Ya’la dari Ibnu Abbas r.a)"


Disini..ana mengambil kesempatan untuk mengucapkan TAHNIAH kepada pasangan pejuang islam yang baru sahaja bertukar status daripada bujang kepada 'sudah dimiliki' iaitu akhi Al-Aarifin & Kak Aini...mabruk a'laikum....smoga akan sentiasa dibawah limpahan rahmat dah naungan Allah keatas kalian berdua...

Disini ana suka untuk melahirkan rasa kagum dengan apa yang dilangsungkan ketika hari perkahwinan sahabat...seperti post ana sebelum ini...kita mestilah bersederhana dalam melakukan sesuatu...jadi,apa yang dapat diperhatikan dimajlis perkahwinan mereka...ana sangat suka majlis macam tu...

Jika kita tinjau majlis-majlis perkahwinan kebanyakan masyarakat hari ini..sangat terserlah pembaziran yang dilakukan...sehinggakan perkara-perkara yang tidak dibenar syarak juga di aplikasi...sebenarnya...untuk mencapai tujuan 'walimatul ursyi' itu cukup dengan perbelanjaan yang sedikit...cuma minda masyarakat sekarang yang telah merumitkannya...itulah antara sebab yang menyumbang kepada ramai pemuda & pemudi yang bertekad meneruskan zaman bujangnya....



Islam Itu Fitrah Dan Memudahkan...janganlah kita menyukarkannya dengan perkara-perkara yang tidak sepatutnya yang mana akan menyebabkan proses pembinaan masyarakat islam yang kritis,futuris dan berwawasan akan terbantut...Oleh itu,perlulah kita fikirkan tentang kelangsungan segala apa yang dilakukan selari dengan kehendak syarak..

Dikesempatan ini juga,ana menyeru kepada semua sahabat-sahabat yang sudah merancang untuk membina baitul islam..teruskan lah..Yang sedang bercinta..langsungkahlah perkahwinan..yang belum berpunya..sabarlah kearahnya...yang sudah terbina..kekalkan lah hingga kesyurga...

Sabda Rasullullah:

"Barangsiapa di antara kamu yang berkemampuan mengeluarkan belanja perkahwinan, maka hendaklah dia berkahwin kerana perkara ini akan memejamkan mata dari melihat perempuan ajnabi dan akan memelihara kemaluan. Dan barangsiapa yang ketiadaan belanja perkahwinan, maka hendaklah dia berpuasa. Maka bahawasanya puasa itu melemahkan syahwat jimak. (Hadis yang disepakati oleh ahli Hadis)"


Ingatlah semua..jadikanlah Al-Quran sebagai dustur kita,As-sunnah ikutan kita,agar segala yang dilakukan akan dikira sebagai ibadah dan memperoleh keberkatan dari Allah s.w.t.

Akhir kalam,Selamat berbahagia diucapkan kepada pasangan-pasanga yang telah mendirikan baitul islam...semoga kehidupan kalian semua akan diberkati oleh Allah s.w.t dan akan dikurniakan cahaya mata yang mana pada suatu hari nanti akan menjadi mujahid dan mujahiddah penyambung perjuangan agama..insyaAllah...

Salam a'laik...

Mohamad Solehin Bin Bakri
Naib Yang Di-Pertua,
Persatuan Sains Perubatan,
Universiti Sains Malaysia.
msb_rg8@yahoo.com


..

Saturday, May 30, 2009

~Bersederhanalah dalam Memuaskan Hati~

~Bersederhanalah Dalam Memuaskan Hati~



Assalamualaikum w.b.t

Bismillahirrahmanirrahim….

Alhamdulillah,setinggi kesyukuran dipanjatkan kehadrat Allah Rabbul A’lamin,kerana dengan sifat pemurah & penyanyag-Nya,kita semua masih lagi dibenarkan untuk terus berada dimuka bumi yang sudah pasti banyak cabaran…Perlulah kita ingat bahawa,setiap cabaran dan keperitan yang kita lalui perlulah disertai dengan mengingati Allah supaya setiap apa yang kita lakukan,walaupun sekecil-kecil perkara mahupun sebesar-besar perkara akan dinilai sebagai kebaikan yang mana akan dapat kita lihat di hari pembicaraan kelah….


Firman Allah didalam Al-Quran:


“Dan (ingatlah) Kami akan mengadakan neraca timbangan yang adil untuk (menimbang amal makhluk-makhluk pada) hari kiamat; maka tidak ada diri sesiapa akan teraniaya sedikitpun dan jika (amalnya) itu seberat biji sawi (sekalipun), nescaya Kami akan mendatangkannya (untuk ditimbang dan dihitung) dan cukuplah Kami sebagai Penghitung.” (Al-Anbia’:47)


Sekali lagi ingin diri ini memanjatkan kesyukuran kepada Allah kerana telah diberikan kekuatan untuk menghadapi peperiksaan yang baru sahaja berlalu…sesungguhnya sangatlah kecil ujian yang diterima itu berbanding ujian2 yang akan dihadapi di akhirat kelak…smoga diri ini sentiasa berada dibawah limpahan rahmat dan kasih sayang-Nya…

Tentunya ramai dikalangan kita semua berasa sangat puas hati apabila selesai menduduki peperiksaan.Pelbagai cara dilakukan untuk meraikannya..ada yang terus ke pusat-pusat membeli belah untuk ‘release tension’…bersama-sama rakan-rakan kesana-kemari ‘membalas dendam’ terhadap stress yang diterima sepanjang study week…Secara umumnya,tidaklah dikatakan salah untuk kita meluangkan masa selepas berpenat lelah memerah otak,tetapi perlulah diingati bahawa segala yang kita lakukan mestilah bersederhana. Bersederhana yang ana maksudkan disini adalah meliputi keseimbangan rohani dan jasmani…Janganlah sehingga kita mengabaikan segala tanggungjawap kita sebagai seorang hamba semata-mata ingin ‘membalas dendam’ diatas penyekatan nafsu dek kerana tekanan exam seperti kita ini tidak bertuhan….



Wahai sahabat sekalian,sekadar perkongsian..ana bersama sahabat-sahabat juga tidak terkecuali dari golongan manusia yang memerlukan kerehatan minda..jadi,selepas exam..kami pun merancang beberapa aktiviti bersama yang mana antara tujuannya untuk ‘release tension’ dan merapatkan ukhwah..Apa yang kami lakukan..kami pergi bermain bowling dan membuat BBQ bersama (bakar kat umah je..huhu)..apa yang nak ana tekankan disini ialah kesederhanaan kita dan keterbatasan kita dalam melakukan sesuatu perkara itu amatlah perlu dititik beratkan…tidak salah untuk kita main bowling,futsal dan sebagainya asalkan solat jemaah tak ditinggalkan,batasan pergaulan dijaga,aurat dan akhlak diteliti dan berlandaskan syariat yang ditentukan ilahi…


Sahabat sekalian,tentu ada yang tertanya mengapa post ini diketengahkan..perlulah diketahui ini sekadar peringatan,bukan saja untuk waktu ini..tetapi diamalkan juga dimasa akan datang…Jika kita lihat ‘trend’ pelajar Universiti yang agak bebas…kita selalu membenarkan diri kita dipacu oleh keinginan nafsu supaya dapat memuaskan kehendak hati…inilah yang perlu kita kikis dari dalam diri,supaya kita tidak terjebak dengan perkara yang dimurkai…



Bagi semua sahabat-sahabat 2nd year medic…sama-samalah kita mendoakan agar kita semua diberi kejayaan oleh Allah yang mengatur kehidupan…Tidak ada sesuatu pun yang akan terjadi jika tidak dengan kehendak dan keizinan-Nya..oleh itu sangatlah perlu untuk kita semua terus dan terus memperhambakan diri supaya kita akan tergolong dalam golongan orang yang dikasihani oleh-Nya..Perlulah diambil perhatian,sepanjang kita smua bercuti,ingatlah diri,sentiasa kuatkan hati agar kita sentiasa berada diatas jalan yang diredhai…


Akhir kalam,Selamat Berjaya kepada semua dan Selamat Bercuti..Jadikan Cuti kita sebagai medan untuk menguatkan lagi iman dengan cara kita mempertingkatkan amal…InsyaAllah…


“Hanya Allah Matlamatku”


Mohamad Solehin Bin Bakri

Naib Yang Di-Pertua,

Persatuan Sains Perubatan,

Universiti Sains Malaysia.

msb_rg8@yahoo.com



“ISLAM ITU FITRAH”


.


Tuesday, May 26, 2009

~Ciri Orang Yang Bertawakal~


Bismillahirrahmanirrahim...

Assalamualaikum w.b.t...

Ada 4 ciri orang yang bertawakal kepada Allah SWT, yaitu :

1. Mujahadah

Orang yang bertawakal selalu bersungguh-sungguh dalam menyelesaikan suatu pekerjaan .

Seorang pelajar yang bertawakal akan belajar dengan sungguh-sungguh untuk dapat menyelesaikan studinya dengan hasil yang baik.

Petani yang bertawakal akan bekerja dengan ulet agar hasil pertaniannya dapat menghasilkan hasil panen yang maksimal.

Bagi orang yang bertawakal apa pun pekerjaannya asalkan tidak bertentangan dengan syari’at Islam akan dikerjakan dengan sungguh-sungguh.

2. Berdo’a

Segala sesuatu ada dalam genggaman Allah SWT, berdo’a adalah melambangkan betapa kecilnya kita di hadapan Allah SWT.

Orang yang tidak pernah berdo’a menunjukkan sifat takabur, padahal segala usaha yang kita lakukan jika Allah tidak mengizinkan tidak akan pernah terjadi.

Berdo’a diperintahkan oleh Allah SWT, seperti dalam firman-Nya :

“ Berdo’alah kalian niscaya akan Aku kabulkan

3. Bersyukur

Mensyukuri segala apa yang diperoleh tanpa melihat besar kecilnya sesuatu yang diperoleh merupakan ciri tawakal.

Dengan bersyukur pada apa yang diperoleh, kita akan selalu merasa puas, senang, dan bahagia.

Seperti dalam firman Allah :

“ Bersyukurlah kepada-Ku niscaya akan aku tambah nikmatnya, tapi jika tidak bersyukur sesungguhnya azabku teramat pedih “


4. Sabar

Dari kesemuanya itu, apa pun takdir Allah SWT yang terjadi pada kita, baik kegagalan, penyakit, kesusahan, bencana, kekayaan, pangkat, dan sebagainya, kita harus sabar menerimanya.

Dengan kesabaran, segala apa yang menimpa pada kita, jika itu suatu musibah tidak akan menjadikan kita putus asa…, dan jika itu suatu kesenangan tidak akan menjadikan kita lupa diri.


Wassalam...